Skip to main content

Untuk Apa Kita Diciptakan?


  Untuk apa kita diciptakan?. Pernah gak kalian memikirkan atau menanyakan kepada diri kalian, untuk apa kita diciptakan? apabila belum, coba kalian pikirkan, dan simak berikut ini.

  Kita adalah manusia, yang selalu berbuat kesalahan, dan itu tuh pasti, entah itu mencuri, memaki, membully, menghina atau yang lain. Tapi, ingatlah, walaupun manusia lemah, Tuhan tidak menciptakkan kita sebagai seorang pecundang, Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah di muka bumi ini, untuk menjalankan perintah perintahnya, untuk menghadapi cobaanya. So, Kita jangan mudah berputus asa, jangan mudah menyerah, Keep Moving Forward (Teruslah Bergerak Maju).

  Cobalah jadi manusia yang baik, yang jujur, karena pintar saja tidak cukup, because konwledge is power, but atittude is more (Pengetahuan itu kekuatan, tapi sikap adalah segalanya). Pintar kalau sombong, buat apa? Pintar kalau bandel buat apa? karena kepintaran adalah kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepada hambanya.

  Kepintaran, dalam benak kalian, kalau ada orang pintar, pasti ada orang bodoh, sebenarnya kata itu adalah salah, SALAH BESAR, karena dalam kenyataan orang hanya menganggap orang itu pintar karena dari sisi akademik, padahal yang sebenarnya, didalam jiwa manusia apabila ada kelebihan pasti ada kekurangan, jadi, jangan suka memandang orang hanya sebelah mata, mungkin orang itu tidak bisa apa yang kita bisa, tapi, belum tentu kita ahli apa yang orang itu bisa, karena hidup ini selalu timbal balik, karena keadilan Tuhan itu tidak bersifat sama rata, coba bayangkan, apabila seisi bumi pintar, siapa yang menjadi guru? apabila seisi bumi kaya, siapa yang akan menjual kebutuhan manusia?.

  So Guys, Kita adalah manusia, dan pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, yang tak lepas dari bersosialisasi, baik itu membutuhkan, atau dibutuhkan, jadi jangan merasa bahwa diri kita lebih unggul. Karena suatu saat nanti, pasti kita akan membutuhkan orang lain.

#TehTarikIndomie


Comments

Popular posts from this blog

Tetap Pada Jalan

Hal yang tersulit itu adalah konsisten, konsisten pada pendirian, konsisten pada rencana, fokus pada tujuan. Disininal kesabaran diuji, antara nafsu dengan hati. Nafsu yang meracuni jiwa agar keluar dari tujuan, supaya bisa mendapatkan kepuasan nafsu tersebut. Rasa emosional yang sangat tinggi membutakan pikiran agar selalu bisa berpikir jernih, suatu bahaya yang merusak sistem jiwa ini. Karena nafsu yang kian memuncak, bisa saja aku merusak rencana, bisa saja aku merugikan orang lain, karena yang ada dalam pikiranku adalah keinginanku bisa terpenuhi. Tingkah laku bodoh yang kulakukan layaknya seorang anak kecil yang merengek kepada orang tuanya. Aku ingin menang sendiri, aku ingin mendapatkan perhatian orang banyak. Tanpa kusadari hal yang kulakukan itu sangatlah salah. Mungkin saja karena tingkah lakuku aku merusak rencanaku, merusak tujuanku yang hingga akhirnya tujuanku tak pernah tercapai, bahak aku lupa akan tujuanku ini. Hal bodoh apa yang merasukiku saat ini...

Jadi Gini.

Gak sedikit orang yang gagal dalam mewujudkan apa yang dia inginkan. Dan memang seperti itu kebanyakan skenario yang ada pada kehidupan masing-masing orang, dan gak sedikit juga orang yang jatuh mentalnya karena kegagalan, mulai dari mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjuangan, bahkan trauma. Sewaktu gue SMP, ada sebuah seminar yang diadain di aula, sebelum memasuki acara inti, seperti biasa ada sambutan dari guru gue, dan saat itu beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada para audiens yang saat itu seluruhnya adalah murid-murid disana. "Mana yang kalian pilih, berani mati atau berani hidup?" Seperti itu pertanyaannya, karena banyak sekali jawaban yang akhirnya sampai membuat gemuruh di ruangan tersebut, akhirnya guru itu pun menyuruh para audiens untuk mengangkat tangan saja, begitu beliau bertanya "siapa yang pilih berani mati?" Hampir seluruh di dalam ruangan mengangkat tangan, kecuali gue. Guru itu pun mengangguk dan menyuruh para audien menu...

I'M BLIND, WHO ARE YOU?

Aku buta, siapa dirimu? Bukan buta dalam artian tidak bisa melihat dengan kedua mata, aku buta dalam menilai seseorang. Namun itu semua kepura puraanku ketika buta menilai orang lain, karena aku tidak ingin hatiku buta karena sering mengkritik orang lain. Mencari kesalahan seseorang, memandang sifat buruk seseorang, menilai salah akan pandangan orang lain. Karena menurutku, setiap insan itu berhak salah, berhak mempunyai sifat buruk, tak ada sifat sempurna dalam setiap insan yang hidup di dunia ini. Bukan urusanku ketika orang lain salah. Yang menjadi urusanku adalah bagaimana caranya agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tak peduli orang lain mencibirku, menilai aku adalah orang yang buruk, karena aku tak ingin diri ini terhasut dengan perilaku mereka. Masa bodoh dengan ucapannya yang selalu memandangku buruk, karena dalam kenyataannya, perannya tidak ada dalam hidupku. Bukan dia yang memberiku makan setiap hari, bukan dia yang memberiku tempat tinggal...