Diriku itu benar
Aku itu benar, ucapakanku itu benar, apa yang aku lakukan itu benar, aku itu lebih berpengalaman.
Diam sejenak.
Mungkin dari segi umur, umurku lebih tua, maka pengalamanku lebih banyak, tapi bukan berarti ucapanku adalah segalanya.
Mungkin dari segi ilmu, aku yang paling pintar, tapi tidak menutup kemungkian apa yang dilakukanku itu pasti benar.
Nafsuku yang membuat aku selalu merasa benar, ingin menang sendiri, pendapat selalu ingin didengar, tanpa memperhatikan orang lain.
Tanpa kusadari, perilaku congkakku ini menjerumuskanku dalam kebodohan yang sebenarnya, menutup gerbang ilmu dari luar untuk masuk kedalam pikiranku, mematikan hatiku sehingga aku tidak punya rasa manusiawi.
Mungkin inilah mengapa Tuhan tidak pernah membenarkan perilaku merasa benar dalam diri manusia, karena pada hakikatnya manusia itu lemah.
Aku itu hanya merasa, merasa benar, merasa kuat, merasa paling pintar, merasa paling tahu. Tapi semua itu hanya merasa, bukan yang sebenarnya.
Aku itu benar, ucapakanku itu benar, apa yang aku lakukan itu benar, aku itu lebih berpengalaman.
Diam sejenak.
Mungkin dari segi umur, umurku lebih tua, maka pengalamanku lebih banyak, tapi bukan berarti ucapanku adalah segalanya.
Mungkin dari segi ilmu, aku yang paling pintar, tapi tidak menutup kemungkian apa yang dilakukanku itu pasti benar.
Nafsuku yang membuat aku selalu merasa benar, ingin menang sendiri, pendapat selalu ingin didengar, tanpa memperhatikan orang lain.
Tanpa kusadari, perilaku congkakku ini menjerumuskanku dalam kebodohan yang sebenarnya, menutup gerbang ilmu dari luar untuk masuk kedalam pikiranku, mematikan hatiku sehingga aku tidak punya rasa manusiawi.
Mungkin inilah mengapa Tuhan tidak pernah membenarkan perilaku merasa benar dalam diri manusia, karena pada hakikatnya manusia itu lemah.
Aku itu hanya merasa, merasa benar, merasa kuat, merasa paling pintar, merasa paling tahu. Tapi semua itu hanya merasa, bukan yang sebenarnya.
Comments
Post a Comment