DIRUMAHAJA GAK BERLAKU BUAT KAMI
Tak asing dengan tagar #DirumahAja yang lagi trending dikala pandemik ini. Kita semua mengikuti perintah dari pemerintah dimana kita selaku masyarakat patut mengikutinya.
Mengkarantina diri sendiri di rumah, keluar hanya untuk kepentingan mendesak, menggunakan masker, menghindari keramaian, saling berjaga jarak antara satu sama lain tentunya.
Tapi semua itu tak berlaku untu kami yang tak memiliki rumah, gangguan kejiwaan, musisi jalanan yang tuna wisma. Kami terbiasa dengan jalanan, karena itulah rumah kami.
Tidur di depan toko toko adalah kebiasaan kami, mengkonsumsi makanan dari sampah adalah kebiasaan kami.
"Masa bodoh dengan virus, yang penting hari ini kami makan". Kami tak terpikirkan untuk membeli masker seperti kalian, hanya sesuap nasi yang kami cari untuk hari ini.
Bukan berarti kami kuat, bukan berarti antibodi kami kuat, bukan berarti kami tahan virus. Kami sama seperti kalian, kami manusia, kami makan, kami minum.
Yang membedakan hanyalah nasib kami dengan kalian.
Jangan sampai karena wabah ini, kalian sibuk untuk menyelamatkan diri kalian masing masing, hingga lupa dengan kami. Masih ada sepercik perikemanusiaan dari diri kalian, masih ada sepercik hati nurani kalian. Sesekali, tolong tengoklah kami.
Mengkarantina diri sendiri di rumah, keluar hanya untuk kepentingan mendesak, menggunakan masker, menghindari keramaian, saling berjaga jarak antara satu sama lain tentunya.
Tapi semua itu tak berlaku untu kami yang tak memiliki rumah, gangguan kejiwaan, musisi jalanan yang tuna wisma. Kami terbiasa dengan jalanan, karena itulah rumah kami.
Tidur di depan toko toko adalah kebiasaan kami, mengkonsumsi makanan dari sampah adalah kebiasaan kami.
"Masa bodoh dengan virus, yang penting hari ini kami makan". Kami tak terpikirkan untuk membeli masker seperti kalian, hanya sesuap nasi yang kami cari untuk hari ini.
Bukan berarti kami kuat, bukan berarti antibodi kami kuat, bukan berarti kami tahan virus. Kami sama seperti kalian, kami manusia, kami makan, kami minum.
Yang membedakan hanyalah nasib kami dengan kalian.
Jangan sampai karena wabah ini, kalian sibuk untuk menyelamatkan diri kalian masing masing, hingga lupa dengan kami. Masih ada sepercik perikemanusiaan dari diri kalian, masih ada sepercik hati nurani kalian. Sesekali, tolong tengoklah kami.
Comments
Post a Comment