Skip to main content

Heart Sanitizer


Bukan Hand Sanitizer ya, tapi Heart Sanitizer. Artikel kali ini bakal bahas soal hati, maka dari itu berhati hatilah dengan hati, karena hati yang tak hati hati akan sakit hati nantinya. Anjay bet dah pokoknya.

Tapi heart kan jantung kalo ditranslate dari Inggris ke Indonesia. Iya gimana lu aja, terserah deh.

Bikin artikel ini seketika terlintas waktu itu di pikiranku "Hand Sanitizer bisa ngebersihin tangan dari bakteri dan virus, kenapa gak ada Heart Sanitizer yang bisa bersihin hati dari segala penyakitnya?". Andaikan Heart Sanitizer itu ada, pastinya bakal sedikit orang jahat di muka bumi ini.

Karena kebiasaan kita yang sedikit sedikit sukanya berprasangka buruk lah, ngehasut orang lah, dendam lah, egois, gak sabaran dan hal lainnya.

Heart Sanitizer ini hanya khayalan aku aja, karena yang aku tahu, penyakit hati bisa disembuhkan dengan lawannya, contohnya ketika kita punya rasa dendam, maka hati ini punya penyakit hati jenisnya dendam, disembuhkannya dengan lawannya, yaitu memaafkan, mungkin yang biasanya egois dan mau menang sendiri bisa disembuhin dengan cara mengalah.

Ternyata se-sederhana itu cara membersihkan hati, iya sederhana tapi sulit dipraktekinnya. Kenapa sulit? Ya karena gengsi dari kita masing masing. Seolah kayak nanti harga diri itu jatuh atau gimana lah.

Terserah kalian sih. Karena gengsi merasa paling baik, dan itu termasuk sombong. Tau kenapa iblis diusir dari syurga? Ya, karena sombong.

Segitu aja deh ya, jangan panjang panjang.

Comments

Popular posts from this blog

Tetap Pada Jalan

Hal yang tersulit itu adalah konsisten, konsisten pada pendirian, konsisten pada rencana, fokus pada tujuan. Disininal kesabaran diuji, antara nafsu dengan hati. Nafsu yang meracuni jiwa agar keluar dari tujuan, supaya bisa mendapatkan kepuasan nafsu tersebut. Rasa emosional yang sangat tinggi membutakan pikiran agar selalu bisa berpikir jernih, suatu bahaya yang merusak sistem jiwa ini. Karena nafsu yang kian memuncak, bisa saja aku merusak rencana, bisa saja aku merugikan orang lain, karena yang ada dalam pikiranku adalah keinginanku bisa terpenuhi. Tingkah laku bodoh yang kulakukan layaknya seorang anak kecil yang merengek kepada orang tuanya. Aku ingin menang sendiri, aku ingin mendapatkan perhatian orang banyak. Tanpa kusadari hal yang kulakukan itu sangatlah salah. Mungkin saja karena tingkah lakuku aku merusak rencanaku, merusak tujuanku yang hingga akhirnya tujuanku tak pernah tercapai, bahak aku lupa akan tujuanku ini. Hal bodoh apa yang merasukiku saat ini...

Jadi Gini.

Gak sedikit orang yang gagal dalam mewujudkan apa yang dia inginkan. Dan memang seperti itu kebanyakan skenario yang ada pada kehidupan masing-masing orang, dan gak sedikit juga orang yang jatuh mentalnya karena kegagalan, mulai dari mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjuangan, bahkan trauma. Sewaktu gue SMP, ada sebuah seminar yang diadain di aula, sebelum memasuki acara inti, seperti biasa ada sambutan dari guru gue, dan saat itu beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada para audiens yang saat itu seluruhnya adalah murid-murid disana. "Mana yang kalian pilih, berani mati atau berani hidup?" Seperti itu pertanyaannya, karena banyak sekali jawaban yang akhirnya sampai membuat gemuruh di ruangan tersebut, akhirnya guru itu pun menyuruh para audiens untuk mengangkat tangan saja, begitu beliau bertanya "siapa yang pilih berani mati?" Hampir seluruh di dalam ruangan mengangkat tangan, kecuali gue. Guru itu pun mengangguk dan menyuruh para audien menu...

I'M BLIND, WHO ARE YOU?

Aku buta, siapa dirimu? Bukan buta dalam artian tidak bisa melihat dengan kedua mata, aku buta dalam menilai seseorang. Namun itu semua kepura puraanku ketika buta menilai orang lain, karena aku tidak ingin hatiku buta karena sering mengkritik orang lain. Mencari kesalahan seseorang, memandang sifat buruk seseorang, menilai salah akan pandangan orang lain. Karena menurutku, setiap insan itu berhak salah, berhak mempunyai sifat buruk, tak ada sifat sempurna dalam setiap insan yang hidup di dunia ini. Bukan urusanku ketika orang lain salah. Yang menjadi urusanku adalah bagaimana caranya agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tak peduli orang lain mencibirku, menilai aku adalah orang yang buruk, karena aku tak ingin diri ini terhasut dengan perilaku mereka. Masa bodoh dengan ucapannya yang selalu memandangku buruk, karena dalam kenyataannya, perannya tidak ada dalam hidupku. Bukan dia yang memberiku makan setiap hari, bukan dia yang memberiku tempat tinggal...