Skip to main content

. Bukan Tanda Baca


Setiap hari itu indah, setiap hari itu adalah permulaan yang baru, yang artinya dimana kesempatan untuk kita memperbaiki hidup. Entah itu keadaan, karir, hubungan, dan hal lainnya.

Tapi hari itu akan menjadi buruk dipandangan kita ketika kita menjumpai banyak titik, titik perpisahan, jenuh dan banyak titik lainnya yang kita sendiri tidak ingin untuk merasakan titik tersebut.

Yang tadinya bersinar akan redup, yang tadinya naik akan turun, mungkin jatuh sekalipun. Patutkah kita menyalahi kehidupan? Atau bahkan lebih parahnya kita menyalahi Tuhan.

"Hidup ini kok gak adil" ya, terkadang kalimat tersebut suka terlintas, entah di hati atau di pikiran. Tapi, rasanya seperti munafik, karena kalimat tersebut seringkali terlintas ketika kita sedang dibawah, sedang tertindas, sedang jatuh, dan ketika hal hal lainnya yang kita semua tau kita itu tidak ingin merasakan hal tersebut.

Begitulah titik kehidupan, ada saatnya di atas, dan saatnya di bawah. Seperti halnya baris tulisan pada cerita, ketika ada tanda titik, ada dua keadaan, bisa dilanjut hingga berakhir dengan akhir yang bahagia, atau cukup menyudahi cerita sampai disitu saja. Kalian yang mengukir kehidupan kalian masing masing, mau lanjut dengan bahagia, atau terpuruk dalam kejenuhan.

Comments

Popular posts from this blog

Tetap Pada Jalan

Hal yang tersulit itu adalah konsisten, konsisten pada pendirian, konsisten pada rencana, fokus pada tujuan. Disininal kesabaran diuji, antara nafsu dengan hati. Nafsu yang meracuni jiwa agar keluar dari tujuan, supaya bisa mendapatkan kepuasan nafsu tersebut. Rasa emosional yang sangat tinggi membutakan pikiran agar selalu bisa berpikir jernih, suatu bahaya yang merusak sistem jiwa ini. Karena nafsu yang kian memuncak, bisa saja aku merusak rencana, bisa saja aku merugikan orang lain, karena yang ada dalam pikiranku adalah keinginanku bisa terpenuhi. Tingkah laku bodoh yang kulakukan layaknya seorang anak kecil yang merengek kepada orang tuanya. Aku ingin menang sendiri, aku ingin mendapatkan perhatian orang banyak. Tanpa kusadari hal yang kulakukan itu sangatlah salah. Mungkin saja karena tingkah lakuku aku merusak rencanaku, merusak tujuanku yang hingga akhirnya tujuanku tak pernah tercapai, bahak aku lupa akan tujuanku ini. Hal bodoh apa yang merasukiku saat ini...

Jadi Gini.

Gak sedikit orang yang gagal dalam mewujudkan apa yang dia inginkan. Dan memang seperti itu kebanyakan skenario yang ada pada kehidupan masing-masing orang, dan gak sedikit juga orang yang jatuh mentalnya karena kegagalan, mulai dari mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjuangan, bahkan trauma. Sewaktu gue SMP, ada sebuah seminar yang diadain di aula, sebelum memasuki acara inti, seperti biasa ada sambutan dari guru gue, dan saat itu beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada para audiens yang saat itu seluruhnya adalah murid-murid disana. "Mana yang kalian pilih, berani mati atau berani hidup?" Seperti itu pertanyaannya, karena banyak sekali jawaban yang akhirnya sampai membuat gemuruh di ruangan tersebut, akhirnya guru itu pun menyuruh para audiens untuk mengangkat tangan saja, begitu beliau bertanya "siapa yang pilih berani mati?" Hampir seluruh di dalam ruangan mengangkat tangan, kecuali gue. Guru itu pun mengangguk dan menyuruh para audien menu...

I'M BLIND, WHO ARE YOU?

Aku buta, siapa dirimu? Bukan buta dalam artian tidak bisa melihat dengan kedua mata, aku buta dalam menilai seseorang. Namun itu semua kepura puraanku ketika buta menilai orang lain, karena aku tidak ingin hatiku buta karena sering mengkritik orang lain. Mencari kesalahan seseorang, memandang sifat buruk seseorang, menilai salah akan pandangan orang lain. Karena menurutku, setiap insan itu berhak salah, berhak mempunyai sifat buruk, tak ada sifat sempurna dalam setiap insan yang hidup di dunia ini. Bukan urusanku ketika orang lain salah. Yang menjadi urusanku adalah bagaimana caranya agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tak peduli orang lain mencibirku, menilai aku adalah orang yang buruk, karena aku tak ingin diri ini terhasut dengan perilaku mereka. Masa bodoh dengan ucapannya yang selalu memandangku buruk, karena dalam kenyataannya, perannya tidak ada dalam hidupku. Bukan dia yang memberiku makan setiap hari, bukan dia yang memberiku tempat tinggal...