Skip to main content

. Bukan Tanda Baca (Ambisi)



Ambisi adalah sifat yang pertama kali muncul ketika seseorang mencoba ataupun memasuki dunia baru mereka. Hal tersebut baik, namun kita semua tahu bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Ambisi menjadi salah satu faktor berkurangnya motivasi terhadap diri lu dengan apa yang membuat konten akan menjadi futur lebih cepat ketika terlalu ambisi.

Berambisi akan membawa diri lu pada keinginan yang besar, sampai lu gak sadar, padahal lu itu baru memulai hal tersebut. Bahkan ada yang sampai merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain, seolah hal apapun itu, dia jagonya. 

Dan pada akhirnya, karena ambisi yang sangat tinggi, ambisi tersebut menguras tenaga, apalagi ketika hal yang diinginkan tidak terwujud akan membuahkan kekecewaan yang mendalam, sampai gairah pun hilang dalam dirinya. Tak ada motivasi, tak ada ambisi, tak ada gairah, dan bahkan tak ada lagi keinginan untuk melanjutkan hal yang sudah terlanjur ia lakukan mati matian.

Lantas bagaimana menyikapinya dengan baik?

Menurut gue cara menyikapinya dengan tidak terlalu berlebihan, berambisi boleh, tapi kita juga harus tau batas kemampuan kita, dan seharusnya kita melihat pada realitanya seperti apa, karena faktanya realita sering tidak sesuai dengan apa yang kita ekspetasikan. Setiap lemburan disikat dengan berekspetasi akhir bulan akan mendapatkan gaji yang besar dan bisa mendapatkan hal-hal yang sudah direncanakan dari hasil gaji tersebut dengan cepat, namun kenyataannya di akhir bulan harus menginap di Rumah Sakit karena badan ngedrop, akhirnya hasil lemburan dipakai untuk membayar biaya berobat, dan hal itu di luar ekspetasi.

Dan ketika diri lu masih sulit untuk menerima kenyataan yang berbanding terbalik dengan ekspetasi lu, jangan berambisi. Karena ketika berambisi dengan ekspetasi yang besar, lu harus siap menerima apa yang di luar ekspetasi lu.

Comments

Popular posts from this blog

Tetap Pada Jalan

Hal yang tersulit itu adalah konsisten, konsisten pada pendirian, konsisten pada rencana, fokus pada tujuan. Disininal kesabaran diuji, antara nafsu dengan hati. Nafsu yang meracuni jiwa agar keluar dari tujuan, supaya bisa mendapatkan kepuasan nafsu tersebut. Rasa emosional yang sangat tinggi membutakan pikiran agar selalu bisa berpikir jernih, suatu bahaya yang merusak sistem jiwa ini. Karena nafsu yang kian memuncak, bisa saja aku merusak rencana, bisa saja aku merugikan orang lain, karena yang ada dalam pikiranku adalah keinginanku bisa terpenuhi. Tingkah laku bodoh yang kulakukan layaknya seorang anak kecil yang merengek kepada orang tuanya. Aku ingin menang sendiri, aku ingin mendapatkan perhatian orang banyak. Tanpa kusadari hal yang kulakukan itu sangatlah salah. Mungkin saja karena tingkah lakuku aku merusak rencanaku, merusak tujuanku yang hingga akhirnya tujuanku tak pernah tercapai, bahak aku lupa akan tujuanku ini. Hal bodoh apa yang merasukiku saat ini...

Jadi Gini.

Gak sedikit orang yang gagal dalam mewujudkan apa yang dia inginkan. Dan memang seperti itu kebanyakan skenario yang ada pada kehidupan masing-masing orang, dan gak sedikit juga orang yang jatuh mentalnya karena kegagalan, mulai dari mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjuangan, bahkan trauma. Sewaktu gue SMP, ada sebuah seminar yang diadain di aula, sebelum memasuki acara inti, seperti biasa ada sambutan dari guru gue, dan saat itu beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada para audiens yang saat itu seluruhnya adalah murid-murid disana. "Mana yang kalian pilih, berani mati atau berani hidup?" Seperti itu pertanyaannya, karena banyak sekali jawaban yang akhirnya sampai membuat gemuruh di ruangan tersebut, akhirnya guru itu pun menyuruh para audiens untuk mengangkat tangan saja, begitu beliau bertanya "siapa yang pilih berani mati?" Hampir seluruh di dalam ruangan mengangkat tangan, kecuali gue. Guru itu pun mengangguk dan menyuruh para audien menu...

I'M BLIND, WHO ARE YOU?

Aku buta, siapa dirimu? Bukan buta dalam artian tidak bisa melihat dengan kedua mata, aku buta dalam menilai seseorang. Namun itu semua kepura puraanku ketika buta menilai orang lain, karena aku tidak ingin hatiku buta karena sering mengkritik orang lain. Mencari kesalahan seseorang, memandang sifat buruk seseorang, menilai salah akan pandangan orang lain. Karena menurutku, setiap insan itu berhak salah, berhak mempunyai sifat buruk, tak ada sifat sempurna dalam setiap insan yang hidup di dunia ini. Bukan urusanku ketika orang lain salah. Yang menjadi urusanku adalah bagaimana caranya agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tak peduli orang lain mencibirku, menilai aku adalah orang yang buruk, karena aku tak ingin diri ini terhasut dengan perilaku mereka. Masa bodoh dengan ucapannya yang selalu memandangku buruk, karena dalam kenyataannya, perannya tidak ada dalam hidupku. Bukan dia yang memberiku makan setiap hari, bukan dia yang memberiku tempat tinggal...